Biepink's Blog

January 17, 2010

Tentang Kesetiaan.. ;)

Filed under: Uncategorized — biepink @ 3:15 pm

Cewekku namanya Caca. Sebenarnya dia baik. Apalagi wajahnya cantik dan dia adalah seorang yang periang. Suasana jadi selalu ramai. Dan malam ini, aku seneng banget bisa berduaan sama Caca setelah kesibukan di kampus. Malam ini indaaahh…. banget! Tapi sebuah sms telah mengacaukan semuanya. Dan Caca yang cantik dan baik itu, berubah bagai kucing yang sedang mengamuk.
Caca menyodorkan ponselku setelah dia membaca sms yang masuk tadi. Caca memang selalu ‘menguasai’ ponselku saat kami sedang bersama-sama. Wajahnya sereemm banget! Aku jadi penasaran. Ada yang nggak beres nih!
Ternyata dari Maya!
‘Malam. Sebel deh nggak bisa ketemu elo. Dari kemarin adaaa aja alasan. Skrg lo dmana?’
“Ada ya, temen yang rajin laporan; jam segini ada di sini, lagi begini, mau begitu, nanti begini, besok bla-bla-.bla! Selalu ada selamat pagi, sore, malam… terus selalu mau tahu ada dimana, ngapain….” Caca melotot. “Sumpah! Sebenernya hubungan kalian sampe mana sih? Ada apa? Nggak mungkin cuma sobatan. Atau…. Temen Tapi Mesra?”
Aku memilih diam. Caca pantas marah. Dia pasti cemburu. Hei, cemburu kan tanda cinta. Berarti Caca cinta banget dong sama aku!
“Gue juga punya sobat cowok, Bim! Tapi nggak gitu-gitu banget! Gue bisa hapal, dalam satu minggu, sms dari cewek reseh itu bisa masuk ke hp lo lebih dari dua puluh kali! Hebat!”
Aku masih diam.
“Gue pikir, setelah petengkaran-pertengkaran kita, lo akan membatasi hubungan lo sama cewek itu. Terutama setelah pertengkaran terakhir kita minggu lalu. Eh… ternyata hasilnya masih sama ! Lo masih kayak begini?”
“Ca, coba simak lagi. Baca sekali lagi. Dia bilang kan sebel nggak bisa ketemu gue dan selalu ada alasan. Nah, berarti gue udah berusaha menjauhi dia, kan? Ayolah, jangan rusak malam ini, Ca!”
“Malam ini udah kelewat rusak! Gue mau pulang!”
Caca beranjak tanpa babibu lagi. Malam ini keindahannya sudah berakhir.

***

Aku bukan sahabat yang baik. Aku juga bukan kekasih yang baik. Aku tak tahu apa sebutan yang tepat untukku. Saat sahabatku membutuhkan aku, aku malah mengabaikannya demi sebuah janji pada kekasih.

Caca berhak marah dan cemburu. Cewek mana pun pasti akan berlaku sama. Maya adalah salah satu kawan baikku sejak kecil. Bersama teman yang lain, kami selalu bersama-sama. Kemudian kami semua pisah sekolah, tapi kami tetap berkomunikasi dan janji bertemu. Terakhir hubungan itu masih tetap terjalin saat kami masing-masing duduk di bangku SMA. Sejak kami duduk di bangku kuliah hubungan itu terputus. Kami masing-masing sibuk. Saat aku mulai pacaran sama Caca, tiba-tiba Maya menghubungiku lagi dan komunikasi kami kembali lancar. Tapi Caca nggak bisa menerima. Di mata Caca, aku dan Maya terlalu dekat.
Maya benar-benar sahabatku. Tidak lebih. Kalau menurut Caca aku terlalu memperh atikan Maya, benar! Aku tahu banyak tentang Maya . Di balik sikapnya yang rame, ternyata suatu saat dia bisa begitu rapuh dan menja di orang yang sangat lemah. Maya memang lemah. Dia tidak seperti kelihatannya. Kalau sudah begitu aku hanya bisa me meluknya. Berada di dekat Maya membuatku merasa dibutuhkan.
Maya tahu tentang Caca. Jelaslah, aku ceritakan semua hal tentang cewek cantikku itu pada Maya. Kepada Caca aku juga bercerita tentang sahabatku Maya. Dan mereka sudah pernah kupertemukan. Mulanya Caca bisa menerima kalau aku sobatan sama Maya. Tapi lama-lama kemudian Caca mulai menunjukkan tanduknya. Dia mulai nggak suka melihat aku teleponan sama Maya. Dia juga benci banget kalau melihat sms Maya muncul. Aku juga bingung. Aku nggak mungkin memutuskan persah abatanku dengan Maya begitu saja, terutama karena aku tahu banyak apa yang sedang menimpa Maya… Maya sedang membutuhkan seseorang. Kebetulan orang itu adalah aku.

***

Hari ini aku ingin sekali menelepon Caca. Aku ingin minta maaf dan ingin merayunya. Tapi Caca pasti masih sebel banget sama aku. Kalau masih marah begitu, dia akan menolak teleponku atau malah menutupnya. Paling sial kalau dia malah ngamuk dan mengeluarkan kata-kata mantra di telepon. Wah, mending tunda dulu deh menelepon dia. Biar dia tenang dulu. Kalau sudah tenang, aku yakin Caca pasti mau menerima teleponku dan memaafkan aku. Malah Caca pasti kangen sama aku. Hah!
Mending aku telepon Maya dulu. Aku akan jelaskan soal smsnya kemarin malam itu.
“Haaa… lo jahat!”
Itu kalimat pertama yang aku dengar begitu ponselku nyambung ke nomornya.
“Gue sibuk, May!”
“Haaa… sok sibuk lo! Sampe nggak sempet hubungin gue. Jahat!”
“Udah ah jangan marah-marah mulu! Kan sekarang gue hubungin elo. Gimana, lo sehat kan, baik-baik aja kan?”
“Lumayan. Kemarin agak capek dan kambuh lagi. Tapi baik-baik aja, kok. Sekarang gue lagi nyiapin sumpahan buat lo!”
Itulah Maya. Ceria, rame dan sembarangan. Gayanya itu bikin aku menyukai persahabatan ini. Tapi Caca….
“Kenapa lo? Kok diam aja? Haaa… takut ya sama sumpahan gue? Tenang, sumpahan yang gue siapin ini nggak jahat-jahat banget. Cuma… ‘sumpah jerawat lo tambah banyak, sumpah lo nggak ganteng lagi, sumpah lo nggak kawin-kawin…. hahaha!”
“Gue lagi berantem sama Caca!”
“Wah, seru tuh! Kenapa lagi?”
“Gara-gara sms lo semalem.”
Sepi.
“May?”
“Gue jadi bingung. Gue kan cuma sms doang. Sms gue kan biasa aja, Bim. Nggak ada tanda-tanda apa pun. Apa lagi sampe ke pornografi.”
“Iya, gue juga udah berusaha jelasin ke Caca, tapi dia nggak ngerti. Maafin Caca juga ya, May!”
“Maksud lo, selama ini hubungan kita jadi mengganggu hubungan lo sama Caca? Bim, aku kan nggak ngapain-ngapainin elo! Kita kan udah sobatan sejak kecil, sejak Caca belum ada di antara kita!”
Wah, aku nggak ngira Maya bisa protes begini.
“Pantes belakangan ini lo sulit banget dihubungi. Sms gue nggak dibales. Telepon gue nggak dijawab. Gue pikir lo bener-bener sibuk di kampus. Taunya lo bermaksud jauhin gue!”
“Eh, tapi beneran gue sibuk di kampus, May! Suer!”
Sepi.
“Ya, udah. Gue seneng kabar lo baik-baik aja. Lo tetep sahabat gue yang paling baik yang paling bawel… bye! Jaga diri baik-baik ya, May!”
Tep.
Baru saja ponsel kumatikan, di depanku sudah berdiri Caca plus dengan muka cemberutnya yang bikin cantiknya bener-bener hilang.
“Pantes dihubungin dari tadi hp lo sibuuukk terus.”
“Caca? Ngapain ke sini?” Sumpah aku kaget. Nggak nyangka pacarku datang duluan sebelum aku minta maaf dan merayunya.
“Gue ke sini mau ngambil tas gue yang semalam ketinggalan di mobil lo! Jangan GR!” Caca beranjak ke mobilku yang kebetulan tidak kukunci. Aku segera menarik tangannya.
“Ca, maafin soal semalam ya.”
“Aduh, Bim! Cape deh kalo cuma denger maaf, maaf, maaf.”
“Abis gue mau ngomong apa lagi?”
Tak disangka tiba-tiba Caca meraih ponsel di tanganku dengan gerakan cepat. Dia mengecek sesuatu. Lalu…
“Barusan aja lo abis nelepon dia, ini buktinya!” Caca menunjukkan register di ponselku. Aku nggak bisa mengelak. “Sementara semalam kita baru berantem soal ini, eh lo udah asyik-asyik teleponan sama dia.”
“Gue lagi jelasin ke dia, supaya dia nggak hubungin gue lagi….”
“Basi!”
“Bener, Ca!”
Caca tak menggubris kata-kataku, dia beranjak. Aku mengejarnya.
“Kita putus, Bim!” Caca menepis tanganku.
Oalah! Putus dari Caca? Bisa gempa bumi aku! Aku nggak mau kehilangan cewek cantik ini. Aku harus menyelamatkan hubungan ini.
“Plis, Ca. Masa putus sih? Apa sih yang salah dengan persahabatan gue dan Maya?”
“Ya jelas salah! Lo kan udah punya cewek. jaga dong perasaan cewek lo!”
“Oke, kasih gue kesempatan. Apa yang harus gue lakukan?”
Caca berhenti. Menatapku dengan matanya yang dingin.
“Cewek mana pun akan berlaku sama, Bim. Jangan sakitin gue! Kita udah sering bertengkar soal Maya, Maya…! Gue capek. Lo harus pilih gue atau dia!”
“Kenapa harus milih? Gue nggak perlu milih, Ca, karena lo memang pacar gue, sedangkan Maya cuma temen.”
“Kalo emang gue begitu berarti buat lo, jauhin Maya. Sejauh-jauhnya! Cewek itu juga harus pergi sejauh-jauhnya dari lo. Cuma itu.”
Aku terpekur. Lama kemudian aku mengangguk.

***

Aku menepati janjiku pada Caca. Sms dan telepon Maya tak kugubris. Lama-lama Caca mulai percaya lagi padaku dan aku merasa damai. Lama-lama juga Maya merasa kalau aku menjauhinya. Mungkin Maya kecewa. Suatu hari dia mengirim sms:
‘Kangen bngt ngobrol sama lo, becanda, tertawa. Tp gw tau, ada Caca di sisi lo. Dan lo lbh memilih menjaga hati Caca. Tapi, Bim, berada di sisi lo membuat gw lbh kuat….’
Aku trenyuh membaca kalimat itu. Maya mungkin sedang kesakitan. Dia butuh seseorang. Tapi aku terikat janji pada Caca. Aku berharap ada orang lain saat ini di dekatnya.

***

Hubunganku dengan Caca semakin mulus. Sampai kemudian sms Maya membat pertahananku mulai goyah.
‘Lo adlh sahabt terbaik gw. Lo yg slama ini memberi semangat bwt gw. Gw udh cb brtahan, Bim. Tp gw bener-bener butuh lo. Plis, Bim.’

Berapa lama aku tak menghubungi Maya? Sebulan dua bulan…. Aku tak ingat lagi. Maya sudah terlalu kesakitan. Saat seperti itu Maya butuh genggaman tanganku. Aku harus menemuinya. Tapi tiba-tiba Caca muncul.

***

Aku bukan sahabat yang baik. Aku juga bukan kekasih yang baik. Aku tak tahu apa sebutan yang tepat untukku. Saat sahabatku membutuhkan aku, aku malah mengabaikannya demi sebuah janji pada kekasih. Saat aku mencoba setia pada kekasih, pikiran dan perasaanku terus berkecamuk rasa bersalah.
Aku benar-benar bersalah pada Maya. Aku yang selama ini mengaku mengenal tentang Maya, mengetahui apa yang sedang menimpa Maya, ternyata berlaku tega… mengabaikannya!
“Dia penderita leukemia sejak dua tahun yang lalu, Ca. Saat kondisinya sedang lemah dan kanker itu terus menyerangnya, dia butuh seseorang di sampingnya. Sekedar menggenggam tangannya, memberinya kekuatan. Cuma gue yang tahu tentang ini. Dia sendirian, nggak punya siapa-siapa kecuali tantenya yang gendut dan galak itu. Dan akhirnya cuma gue yang, dulu, selalu menemaninya melalui kesakitan-kesakitannya. Belakangan setelah gue terikat janji untuk menjauhi Maya, gue nggak tahu siapa yang ada di sampingnya menggenggam tangannya, melalui masa-masa kesakitannya. Kamu tahu, Ca, saat kesakitan itu datang, Maya sangat tersiksa. Mengerang dan berusaha menahannya. Gue aja sering nggak kuat ngelihat dia begitu… kasihan, Ca. Kasihan Maya. Andai lo tahu betapa gue merasa amat bersalah pada Maya., karena dulu gue pernah berjanji pada Maya untuk selalu menemaninya melalui masa-masa ke sakitannya. Gue melanggar janji itu, demi lo, Ca! Maafin gue, Maya. Gue bukan sahabat yang setia, karena gue sedang mencoba menjadi kekasih yang setia. Maafin gue… maafin gue!”
Kalimat itu kuucapkan di depan tanah merah dan basah. Sebulan Maya berjuang melawan kesakitannya, benar-benar sendirian. Tanpa seorang pun di sisinya, menggenggam tangannya. ©

BIODATA PENULIS

Reni Erina, lahir di Jakarta. Perempuan cantik berkulit putih halus ini merupakan salah satu pengarang remaja senior yang masih eksis sampai sekarang. Tulisannya sudah tak terbilang jumlahnya, dan menyebar di seluruh majalah remaja nasional – Hai, Kawanku, Gadis, Gaul, Aneka-Yess!, dan Anita Cemerlang. Tema tulisannya manis, romantis nan mendayu-dayu, dan khas meremaja.

Jangan Main-Main dengan Perempuan!

Filed under: Uncategorized — biepink @ 3:14 pm

Ada tabir yang menghalang serupa halimun
lindap cahaya bersembunyi malu-malu
dalam jubah perempuan beraura putih
: kilau cahya sepasang matanya menjelma bintang
gulita tersingkap bagai gergasi nan kapar
“Biarkan ia terbang seperti merpati,
singkap pintu dari kerangkeng emas
dan sangkar madu yang terbuat dari kristal berlian!”

Perempuan yang dilentuk dari cahaya surga
biarkan aku terkurung dalam empat tembok gawir
merenungi tindakku yang keliru
dalam penjara hati yang telah kucipta
setinggi binara menjulang langit

Perempuan, oh perempuan
: bunuh aku dengan kilau matamu yang setajam pedang
untuk menebus dosa-dosa kaumku,
terhadapmu
cahaya yang dilentuk sesempurna surga!

(Effendy Wongso —
Bunuhlah Aku, Perempuan!)

***

Malam ini aku sungguh terkejut ketika melihat perempuanku berdiri di depanku. Ia bebas!
“Apa yang kau tulis? Apa kau menulis tentang perempuan lagi?” Mendadak saja ia sudah mendelik di depanku.
“Kenapa?” tanyaku acuh tak acuh dengan rasa tidak senang.
Menurutku apa yang akan aku tulis adalah urusanku sendiri. Karena apa yang akan aku tuangkan dalam kata-kata adalah apa yang ada di dalam otak dan kepalaku! Jadi bukan wewenang perempuanku untuk melakukan intervensi terhadap apa yang akan aku tulis.
Jujur saja, aku tidak suka dengan kehadirannya di saat aku menulis. Ia selalu mengusikku dengan segala kenyinyirannya sehingga apa yang aku tulis tidak murni dari jari-jemariku sendiri.
Karena ketidaksukaanku itulah, maka ia kupasung selama lima tahun!
Lima tahun yang lalu, bibirnya yang indah kujahit, gigi geliginya kucabut, dan lidahnya kupotong. Lalu bibirnya yang indah itu, gigi geliginya, dan lidahnya, kusimpan di dalam toples yang berisi air keras. Kuawetkan di dalam toples itu! Tidak hanya itu! Kalau boleh aku meminjam istilah Agatha Christie ketika menggambarkan otak Hercule Poirot adalah”sel-sel kelabu”-nya dan semangatnya kukunci di dalam gudang gelap. Dan rongga matanya yang kerap kali mengeluarkan butir-butir ai mata, aku cungkili lalu kubekukan di dalam frezer.
Sehingga dalam lima tahun terakhir ini, perempuanku tidak bisa berkata-kata, tidak mempunyai semangat karena sel-sel kelabu di kepalanya tidak berjalan normal, dan tidak bisa mengeluarkan airmata sama sekali! Ia benar-benar seperti robot. Ia tertawa tetapi tidak bisa menyeringai. Ia menangis tetapi tanpa airmata. Ia tubuh tanpa jiwa. Ia bergerak hanya berdasarkan perintahku ketika aku membutuhkannya untuk menyiapkan segelas kopi untukku. Seluruh roda hidupnya kubuat jalan di tempat.
Setiap hari perempuanku sibuk dengan dirinya sendiri. Ia sibuk mencari mulut yang memuat lidah, bibir, dan giginya, juga memunguti kristal-kristal airmatanya di dalam frezer, atau merenda sel-sel kelabu di dalam kepalanya dan menyulam semangatnya yang hilang.
“Apa kau menulis tentang perempuan lagi?” Suara perempuanku mengelegar kali ini.
Aku tengadah karena terkejut. Jari-jemariku berhenti menari di atas keyboard tuts-tuts laptopku. Dan aku terperanjat tidak kepalang tanggung ketika aku menyadari perempuanku berdiri di depanku dengan begitu perkasa! Jahitan di bibirnya sudah rentas. Gigi geliginya sudah menjadi taring semua. Dan… lidahnya berapi!

***

Karena ia adalah makhluk lemah sekaligus kuat, ia direndahkan tetapi dibutuhkan, ia tidak berarti apa-apa tetapi sangat berharga!
Astaga!
Aku larikan pandanganku ke toples berisi air keras di mana aku mengawetkan organ-organ mulut perempuanku. Semua masih lengkap di dalam toples itu….
“Bah! Kau kira kau bisa memasung mulutku untuk selamanya?” Ia bertanya dengan ketus.
Aku berlari ke gudang gelap di mana aku menyekap sel-sel kelabu otak dan semangatnya. Semua masih ada di tempatnya.
“Kau pikir aku tidak bisa mendapatkan sel-sel kelabu dan semangat baru?” Ia bertanya dengan nada mencemooh.
Aku berlari lagi membuka frezer. Kulihat butir-butir airmatanya yang membeku masih menjadi stalagnit dan stalagtit di sana. Tidak ada yang berubah.
“Kau mau aku tidak bisa tertawa dan menangis untuk selamanya, kan? Kau kira semudah itu?” Suaranya terdengar sampai di tempat aku berdiri.
“Lalu apa maumu?” Kudengar nada suaraku setengah putus asa.
Aku berjalan gontai dengan bahu lesu kembali ke tempat dudukku. Aku merasa seperti ada sebuah bahaya laten yang mengancamku. Naluriku mengatakan bahwa perempuanku sekarang lebih berbahaya dibanding lima tahun lalu.
“Jangan main-main dengan perempuan!” jawabnya cepat dan tegas.
“Apa?!”
“Jangan main-main dengan perempuan!” Ia mengulangi kalimatnya.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu….”
“Baik. Sekarang giliranmu untuk duduk dan mendengarkan kata-kataku. Tutup laptopmu. Karena aku muak dengan semua tulisanmu yang gentayangan di dunia perempuan. Sekarang aku ingin kamu menulis tentang laki-laki!” perintahnya seperti seorang juragan.
Nah, nah, nah… inilah salah satu alasan kenapa aku memasungnya lima tahun lalu. Ia benar-benar seperti seorang juragan, seorang bos, seorang atasan, seorang direktur, kalau sudah mengeluarkan kata-kata. Ia perempuan yang bisa membuat kebanyakan orang mengiyakan semua kata-katanya.
Tetapi, tidak aku!
Justru aku adalah orang yang membuatnya mati dari kata-kata. Memasungnya mati dari emosi. Membuatnya tidak peduli dengan dunia sekitarnya. Kusibukkan ia dengan mencari mulut, sel-sel kelabu, semangat, dan airmatanya.
Perempuanku mengambil posisi duduk di depanku. Ia pandangi aku dengan matanya yang berapi. Lalu mulai bicara lagi dengan lidahnya yang berapi pula.
“Aku ingin kamu menulis tentang laki-laki!” Ia mengulangi kata-katanya.
“Aku tidak bisa….”
“Harus bisa!” potongnya cepat.”Sudah terlalu banyak dan sudah terlalu lama perempuan dipermainkan dari segala segi. Coba kamu lihat semua iklan di televisi, mulai makanan, sabun, elektronik, pakaian dalam, obat datang bulan sampai obat panu kadas dan kurap, semua memakai perempuan,” ia mulai nyerocos dengan intonasi suara yang semakin lama semakin tinggi.
“Itu namanya perempuan mempunyai nilai jual karena indah dan menarik.”
“Bah! Perempuan mempunyai nilai jual? Apa maksudnya perempuan itu menarik? Lalu dengan alasan menarik itu kalian, kaum laki-laki, dengan seenaknya saja mempelajari dan membedah perempuan bukan saja secara visual tetapi juga secara riil. Dokter-dokter kandungan mengobok-obok perempuan mulai dari labia mayora, labia minora, saluran falopii, uterus, bahkan menjadikannya kelinci percobaan untuk proses inseminasi, bayi tabung, bahkan mungkin program cloning di kemudian hari, dengan alasan kemajuan ilmu kedokteran.”
“Itu namanya kodrat. Karena itu perempuan berharga….”
“Apa katamu?” Ia seperti harimau meradang.
Matanya semakin berapi. Lidahnya semakin membara.
“Perempuan berharga?! Kalau perempuan berharga kenapa undang-undang perkawinan hanya mengatur tentang poligami? Kenapa tidak mengatur tentang poliandri? Kenapa kalau perempuan tidak bisa memberikan keturunan bisa menjadikan alasan bagi laki-laki untuk kawin lagi? Bagaimana dengan laki-laki yang impoten, azospermia, ejakulasi dini, atau apa saja namanya… bisakah dijadikan alasan buat perempuan kawin lagi? Di mana hukum perkawinan kita menempatkan bahwa perempuan itu berharga?”
“Ah… kau lebih baik menjadi aktivis perempuan dan ikut demo di bundaran Hotel Indonesia saja sambil membawa spanduk besar-besar membela hak asasi perempuan,” aku mulai kalah omong.
Nah, nah, nah… wajar kan kalau perempuanku kupasung lima tahun lalu? Memang semua yang dikatakannya benar dan masuk akal. Tetapi juga benar-benar membuat posisi laki-laki berbahaya.
“Kalian, kaum laki-laki, masih belum cukup puas dengan itu. Semua wartawan koran masih saja menulis tentang perempuan yang diperkosa dengan visum et repertum vagina sobek dan selaput dara rusak, lalu dibunuh, dipotong-potong dan dibuang. Kenapa tidak pernah ada berita seperti ini… .hm….” Ia kelihatan berpikir sejenak.”Begini:: Telah ditemukan mayat seorang laki-laki di atas tempat tidur dalam keadaan telanjang dengan bagian-bagian tubuh terpotong-potong, kepala lepas dari tubuhnya, dan menggigit penis yang dijahitkan ke mulutnya sendiri. Bagaimana?”
Huek!
Tetapi perempuanku justru tertawa terkekeh-kekeh sampai airmatanya meleleh.
Setelah lima tahun, baru kali ini aku melihat matanya mengeluarkan airmata lagi, bibirnya menyeringai tertawa, dan ada nada suara yang keluar dari labirin tenggorokannya.
Aku tidak tahu apa makna tertawanya. Ia sukakah? Gelikah? Getirkah? Atau mungkin aku terlalu lama memasung perempuanku sehingga aku sendiri tidak mengenal makna tertawanya dan tidak bisa membaca arti airmatanya? Aku tidak kenal dengan perempuanku sendirikah?
Sehabis tertawanya yang cukup lama, ia menarik nafas panjang. Mengambil sebatang rokokku di atas meja, menyulutnya dengan lidahnya yang berapi. Ia memang tidak memerlukan korek api lagi karena lidahnya sudah berapi.
“Sekarang, kalian yang mengaku penulis, juga beramai-ramai menulis tentang perempuan. Kalian telanjangi perempuan di atas kertas sampai tidak ada ruang untuk sembunyi lagi untuk perempuan. Kalian geluti dan perkosa perempuan beramai-ramai dari visualnya, haknya, organnya, emosinya, airmatanya, juga kelaminnya!”
“Ng… karena perempuan menarik. Ia marah menarik, ia tertawa menarik, ia menangis juga menarik, ia telanjang… apalagi. Menarik sekali!”
“Ya, kalian telanjangi perempuan habis-habisan.”
“Karena menelanjangi perempuan itu nikmat.”
“Kenapa tidak menelanjangi pemikirannya, ide-idenya, semangatnya, kekuatannya, atau telanjangi penderitaan dan rasa sakitnya?” kata-katanya seperti peluru keluar dari moncong senapan.
Sementara itu asap rokoknya mengepul sambung-menyambung seperti asap lokomotif kereta api.
Aku terdiam.
“Atau… karena kalian cuma main-main dengan perempuan….” Ia menutup kata-kata dengan nada sumbang.
Mungkin, ya.
Mungkin?
Ya. Mungkin.
Perempuan memang obyek yang menarik untuk dijadikan mainan kata-kata, mainan imajinasi, mainan emosi, juga mainan inspirasi. Tetapi jika ternyata”permainan” dengan perempuan itu akhirnya menimbulkan ketimpangan dan ketidakadilan seperti yang dirasakan oleh perempuanku, aku masih tidak tahu harus meletakkan masalahnya di mana.
Apakah memang perempuan adalah obyek lemah yang mudah dipakai sebagai mainan? Atau memang perempuan justru obyek kuat yang menikmati dirinya ketika dipergunakan sebagai mainan? Apakah perempuan memang begitu menarik dan berharga dari segala segi sehingga menjadi komsumsi pasar, teknologi, sampai kepada para pujangga dan seniman? Atau sebaliknya, perempuan justru sangat rendah sehingga tidak mempunyai persamaan hak di dalam hukum dan seks?
Tetapi bagaimanapun perempuan, apakah ia kuat atau lemah, apakah ia berharga atau rendah, ternyata ia tetap menjadi”obyek”. Karena begitu ia ingin mengganti posisinya menjadi”subyek”, maka seperti aku, kaum laki-laki akan memasungnya. Karena sebagaimana yang kupikirkan, jika perempuan menjadi”subyek” maka ia akan membahayakan posisi laki-laki.
Karena ia adalah makhluk lemah sekaligus kuat, ia direndahkan tetapi dibutuhkan, ia tidak berarti apa-apa tetapi sangat berharga!
Tengah aku masih sibuk dengan debat kusirku sendiri, perempuanku mendekat dan berkata,”aku ingin bercinta denganmu malam ini….”
Ia hembuskan sebuah udara dari mulutnya yang merupakan campuran dari nafasnya yang wangi dan kepulan asap rokok. Begitu seksi dan menggoda. Tetapi aku lebih merasakan itu sebagai sebuah perintah daripada sebuah permintaan.
Aku gemetar.
“Tidak, aku tidak berani main-main dengan perempuan….” ©

(Untuk Segumpal Rose: Terima kasih, kamu tidak pernah main-main. Saya percaya!)
*) Inspired by: Jangan Main-Main (dengan) Kelaminmu karya Djenar Maesa Ayu.

BIODATA PENULIS

Lan Fang, lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Penulis perempuan berdarah Tionghoa ini merupakan pengarang senior yang telah mempublikasikan karyanya pada berbagai media cetak nasional. Ia kerap menjuarai lomba menulis cerber di majalah Femina, dan LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang. Novel maupun noveletnya sudah banyak yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Ia juga merupakan salah satu pengarang perempuan yang sering menerbitkan cerita bertema pembauran dan antidiskriminatif gender perempuan di Indonesia.

Surat Terbuka Joanna Octavia dari Kanada

Filed under: Uncategorized — biepink @ 3:11 pm

Kepada saudara-saudari setanah air Indonesia,
Dari semua warga Indonesia etnis Tionghoa yang pernah bermukim di tanah kelahiran kita, tidak banyak orang yang mengenal keberadaan Soe Hok Gie, mahasiswa dan aktivis politik yang mendedikasikan hidup singkatnya untuk menggulingkan pemerintahan pasca-kemerdekaan yang korup. Saya pertama kali mengenal sosok pemuda gagah berani ini melalui catatan hariannya yang diterbitkan ulang pada tahun 2005, setelah film biografi berjudul “Gie” diluncurkan di Indonesia. “Catatan Harian Seorang Demonstran” bercerita mengenai pengalaman hidup Gie di Indonesia pada zaman pergantian pemerintahan yang penuh goncangan, dari waktu kolonialisme masih merajai tanah nusantara, saat Soekarno naik tahta dan hingga rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto.
Adalah pengetahuan yang umum bahwa seringkali buku lebih dapat mewakili intisari dari sebuah cerita dibandingkan film dengan isi yang sama. Maka dari itulah saya memutuskan untuk membaca buku Gie terlebih dahulu, dan kemudian baru menonton film biografinya. Namun, saya amat terkejut ketika menyadari bahwa kedua media tersebut menyorot sosok Gie melalui teropong yang sama. Bahkan setelah berulang kali membaca buku Gie, saya masih merasa tertarik dengan sosok pemuda ini, dan seringkali bertanya-tanya pada diri sendiri mengenai asal-muasal patriotisme dan keberanian yang ia miliki. Pada saat yang sama, saya juga merasa amat malu pada diri saya sendiri yang lebih banyak menghabiskan waktu memikirkan mengenai hal-hal yang fana dan tidak penting, daripada memakai waktu untuk peduli dan mempelajari hal-hal yang terjadi di Indonesia pada saat ini—dan mencari cara untuk mencetuskan perubahan yang positif.
Pada usia yang sangat relatif muda, Soe Hok Gie berjuang melawan ketidakadilan untuk alasan-alasan yang mungkin beberapa dari kita tidak akan pernah mengerti. Ia bukanlah seorang yang kaya raya, seperti stereotipe warga Indonesia etnis Tionghoa yang berkecimpung dalam dunia bisnis dan perdagangan; ia adalah seorang pencinta alam, kontributor setia media cetak dan ia adalah seorang guru. Melalui unsur-unsur politik yang dikandung oleh karya tulisnya, Gie diasingkan dan memiliki banyak musuh, namun ia terus berjuang demi kebebasan, keadilan dan Indonesia.
Walaupun almarhum mantan presiden Soeharto mengumumkan akan adanya hukum yang mengharuskan semua warga Indonesia etnis Tionghoa untuk mengubah nama Mandarin mereka menjadi nama yang lebih mengandung unsur Indonesia, Gie tidak mengubah namanya dan ia mempertahankan identitas tersebut hingga hari kematiannya, satu hari sebelum ia berulangtahun yang keduapuluh tujuh. Karena hal inilah, maka saya menyadari bahwa identitas adalah milik pribadi yang tidak dapat diganggu gugat. Walaupun pada awalnya saya ragu, akhirnya saya memutuskan untuk memilih Ilmu Politik sebagai salah satu mata pelajaran saya di universitas, yang adalah sangat jauh berbeda dari pelajaran bisnis yang diinginkan oleh orangtua saya.
Mempelajari Ilmu Politik tidaklah mudah; namun melalui mata pelajaran ini saya kini mengerti akan kekuatan yang dikandung oleh sebuah pena. Dalam film “Gie” yang dibintangi oleh Nicholas Saputra, tokoh Gie berujar bahwa: “Individu-individu yang mampu menghasilkan perubahan adalah mereka yang berani berbicara dan melawan arus norma-norma sosial”. Seringkali topik pembicaraan yang perlu dibicarakan adalah hal-hal yang paling dihindari. Banyak orang yang berkata bahwa kini Indonesia sedang melalui “Reformasi”; sebagai pemuda-pemudi Indonesia, adalah tugas kita semua untuk tidak membiarkan kata tersebut hanya cat kering di atas spanduk-spanduk, yang dengan mudahnya dibuang setelah demonstrasi ditutup. Sejujurnya, saya sendiri adalah seorang yang masih amatir dan hijau dalam hal-hal yang menyangkut akan politik dan hukum, tetapi saya berharap bahwa perasaan ini tidak akan luntur bahkan ketika saya dewasa nantinya.
Dibesarkan di Indonesia pada rezim Orde Baru dan zaman Reformasi, dari usia yang sangat muda saya sudah mengerti bahwa untuk semua hal ada harga yang harus dibayar; masih banyak topik-topik yang tidak boleh dengan mudahnya dibicarakan—namun bagaimana caranya generasi kita dapat mengubah Indonesia apabila kita tidak diperbolehkan bicara megenai hal-hal yang menurut kita adalah adil dan benar? Soe Hok Gie menulis bahwa generasinya memikul tanggung jawab untuk memimpin Indonesia ke arah yang benar. Namun, korupsi merajalela dan Kerusuhan Mei 1998 adalah saksi mata betapa kelamnya ranah Ibu Pertiwi dicacah oleh diskriminasi yang dibentuk oleh oknum tertentu demi tercapainya kekuasaan semu. Seringkali saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri, bagaimana jika Soe Hok Gie tidak meninggal pada usia yang sangat muda dan terus menulis? Apakah mungkin orang-orang akan mendengarkan ketika ia mengingatkan mereka untuk menjadi seorang yang baik dan benar? Entahlah. Mungkin ya mungkin tidak, sebab tidak ada pasti yang statis. Apakah generasi Gie telah memimpin Indonesia ke arah yang benar adalah suatu pertanyaan yang tidak perlu saya jawab. Apakah generasi saya dan generasi Anda akan mengubah Indonesia adalah suatu pertanyaan yang belum bisa saya jawab pula.
Mungkin saja mencetuskan perubahaan melalui setiap langkah dan setiap individu adalah sesuatu yang dapat terjadi, karena seperti kata Soe Hok Gie: “Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan!” (Joanna Octavia, penulis dan mahasiswi Jurusan Ekonomi dan Ilmu Politik Tingkat IV, University of British Columbia, Kanada)

CafeNovel.com | Green Festival

Jenis: Kontemporer Kode Busana: DS012 IDR 175 (not include stocking) Harga: Rp. 175.000 Keluaran: Juni 2008 Perancang: – Model: Ice Magazine Models Koleksi: De’ Olive Fashion Shop (www.cafenovel.com) Alamat: Jl. Sungai Poso No. 60, Telp. 0411-5477272/08164380027, Makassar — Indonesia E-mail: deoliveshop@gmail.com

Filed under: Uncategorized — biepink @ 3:09 pm

Trend fashion merupakan salah satu komoditas besar yang tak dapat diabaikan pada saat ini. Tentu saja, karena busana pada saat ini bukan hanya menjadi kebutuhan primer seperti zaman baheula, namun kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Gaya hidup di sini, tentu bukan menyoal mahal atau murahnya ‘barang’ tersebut, tetapi telah menjadi pencitraan jatidiri. Kalau merunut ihwal tersebut, pada saat ini tentulah kita tidak dapat menolak asumsi bahwa Batik (paling tidak, untuk saat ini) masih menjadi kiblat para desainer busana dan, tentu saja, khalayak (entah, tua-muda) sebagai konsumen. Sesuatu hal yang positif mengingat kita sebagai anak bangsa memang perlu melestarikan pakaian tradisional Indonesia, selayaknya kebudayaan-kebudayaan lainnya. Namun demikian, variatif busana masih seiring sejalan dengan trend Batik. Untuk harmonisasi kedinamisan busana kontemporer remaja, De’ Olive Fashion Shop dan http://www.cafenovel.com terus berupaya menyajikan trend-trend fashion yang bakal marak di era muhtakhir ini.
Dan untuk memudahkan Anda mendapatkan informasi, juga produk yang tengah digandrungi, maka kami membuka penjualan online di http://www.cafenovel.com. Anda dapat memesan produk-produk kami dengan menghubungi deoliveshop@gmail.com. Cantumkan kode barang yang Anda minati sesuai pada gambar. Ketentuan dan syarat berlaku, harga sewaktu-waktu dapat berubah, dan setiap pengiriman barang akan dikenakan biaya tambahan. (Deasyana Tjoetarno)

Anda Mesti Tahu!!!

Filed under: Uncategorized — biepink @ 3:05 pm

Salah satu contoh awal kegiatan menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Pada awal sejarahnya, menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno.
Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5000 tahun lalu. Orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat. Tanda-tanda tersebut mewakili bunyi, berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda. Kegiatan menulis berkembang pesat sejak diciptakannya teknik percetakan, yang menyebabkan orang makin giat menulis karena karya mereka mudah diterbitkan. (effendy wongso, dari berbagai sumber)

Filed under: Uncategorized — biepink @ 3:03 pm

CafeNovel.com | Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan mencanangkan gerakan membaca koran massal di kalangan pelajar dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2008 yang dipusatkan di lapangan Tri Lomba Juang Mugas Semarang, Sabtu (9/2). Ketua Panitia Pelaksana Daerah (Panpelda) HPN 2008, Sasongko Tedjo di Semarang, Rabu, mengatakan, jumlah peserta pencanangan gemar membaca itu sekitar 10 ribu orang dari kalangan pelajar SMP dan SMA di Kota Semarang.
“Presiden beserta pelajar akan membaca bersama-sama dari koran terbitan Jawa Tengah. Pencanangan itu dilakukan setelah Presiden memberikan sambutan pada puncak HPN 2008 yang dipusatkan di gedung Gradhika Bakti Praja Provinsi Jateng,” kata Sasongko Tedjo yang juga Ketua PWI Cabang Jawa Tengah. Ia menambahkan, oplah koran sekarang terus mengalami penurunan karena budaya membaca, tetapi yang berkembang saat ini adalah budaya melihat.
“Tiras koran sekarang ini mengalami penurunan dari 4,5 juta eksemplar menjadi 3,5 juta eksemplar dan ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi Amerika Serikat juga mengalami hal itu,” katanya.
Acara peringatan HPN 2008 ini berlangsung tanggal 7-10 Febuari 2008, tetapi sudah dimulai jauh-jauh hari dengan gerakan wartawan menaman yang dipusatkan di Kabupaten Wonosobo, Jateng, hari Minggu (27/1). Jumat (8/2) digelar acara Konvensi Media Massa di Hotel Patra Semarang. Pada acara ini akan bertindak sebagai pembicara adalah Chairul Tanjung (Yayasan Indonesia Forum), DR. Raden Pardede, Prof. Dr. Bambang Brojonegoro, Anggito Abimanyu, Dr. Rosihan Anwar, dan lain sebagainya dengan pembicara kunci Ketua MPR RI, Hidayat Nurwahid. “Hasil dari Konvensi Media Massa tersebut akan diserahkan kepada Presiden SBY pada puncak HPN,” katanya. (effendy wongso, foto: kompas.com)

Filed under: Uncategorized — biepink @ 3:02 pm

Pada tanggal 24 Januari 2008 lalu, Penerbit GagasMedia kembali mengadakan launching novel adaptasi terbarunya yang berjudul Radit & Jani di Izzy Pizza Mahakam, Jakarta Selatan.
Menanggapi masalah novel adaptasi Radit & Jani, Upi – penulis script Radit & Jani, merasa kerepotan mencari penulis yang sesuai dengan karakter film tersebut, sebab ceritanya lebih dewasa. Sedangkan, kebanyakan, para penulis novel adalah penulis cerita ABG, seperti chiklit dan teenlit. Film ini tergolong hot sehingga badan sensor memotong beberapa adegan tertentu. “Ada beberapa adegan yang dipotong oleh badan sensor,” jelas Upi. Ketika dituangkan ke dalam novel, nuansanya agak berbeda. Hal itu pula yang diungkapkan oleh Rio Rinaldo yang sebelumnya telah menulis novel adaptasi Selamanya, demikian imbuhnya lagi kepada para wartawan. Namun, pembuatan novel ini setidaknya bisa dirasakan oleh mereka yang jauh dari kota sebagaimana yang dikatakan Moammar Emka. “Bagi mereka yang tidak bisa nonton filmnya atau berada di pelosok kampung-kampung bisa menikmati novel ini,” ungkap penulis Jakarta Undercover ini. Novel yang bertemakan brutally romantic ini memiliki karakter khas, yakni antara perjuangan mendapatkan cinta, kebebasan, kebahagiaan, dan romantika kehidupan. Dari awal cerita, pembaca sudah dibawa ke suasana pertemuan antara Radit & Jani yang khas dan singkat. Kemudian, diajak menyelami lika-liku kehidupan mereka yang romantis, tapi liar penuh ketegangan. Radit sebagai sosok pencemburu berat, pemakai narkoba, penganut faham kebebasan, dan selalu berusaha menjadi satu-satunya orang yang ingin membahagiakan Jani. Sedangkan, Jani sebagai sosok yang baru menemukan apa yang selama ini dicarinya, yaitu hidup bebas. Bersama Radit-lah, Jani merasa apa yang dicarinya selama ini bisa didapatkan. Acara ditutup dengan pemberian buku secara simbolik dari Moammar Emka kepada Rio dan Upi sebagai tanda telah launching-nya novel tersebut. (effendy wongso, gagasmedia.net)

Ten 2 Five meluncurkan album sekaligus novel terbarunya berjudul Aku Ada Rahasia. Judul novel ini diambil dari salah satu lirik lagu Ten 2 Five yang diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media.
“Tema novel ini diambil dari salah satu lirik lagu pada album Ten 2 Five yang baru. Dalam album Ten 2 Five ada sebuah lirik lagu yang pas dijadikan tema novel,” ujar Imel, vokalis Ten 2 Five, Rabu (20/2), pada press release di Senayan City.
Menurut Imel, Ten 2 Five telah merilis tiga album sejak berdiri tahun 1998 – digawangi Imel di vokal, Arief di bass, Poltak di drum dan Robin di gitar, dan barulah kali ini kepikiran untuk menovelkan salah satu lirik lagu. Ia melanjutkan, dalam novel ini, Ten 2 Five mengihwal dua orang yang mengkhianati salah satu karibnya. Lantas, pemuda yang tersakiti tersebut meluapkan emosinya lewat tulisan. Ia mencoba membuka rahasia di balik pengkhianatan cinta berbumbu segitiga di antara mereka.
“Ceritanya sangat lucu dan menarik. Kami ingin mengangkat lagu ini lewat sebuah novel,” terang Imel. Imel menegaskan, novel kali ini dicetak sebanyak lima ribu eksemplar dan disebarkan di seluruh Indonesia. Bersama dengan novel, ia menyisipkan CD MP3 milik Ten 2 Five apabila orang membeli novel. Awal Maret 2008 Ten 2 Five akan melakukan tur promo di sejumlah kota di Indonesia.
“Kami sedang teken kontrak untuk manggung di Medan, dan beberapa kota di luar pulau Jawa. Mudah-mudahan album ketiga ini membawa hoki,” ujar Imel berharap. (effendy wongso, gagasmedia.net)

January 12, 2010

Nyobain Trans Jogja yuukk,,;)

Filed under: Uncategorized — biepink @ 8:10 am

Sekarang ini, di halte Trans Jogja ada sarana informasi baru yaitu petunjuk urutan halte untuk masing-masing trayek bis. Jadi, disini penumpang bisa melihat informasi urutan halte. Ini bermanfaat untuk penumpang yang membutuhkan informasi kapan/dimana akan turun.
Mengenai urutan halte, saya rasa ini mirip yang ditemukan pada layanan transportasi Transjakarta. Yang membedakan mungkin adalah ukurannya (lebih besar dan lebih jelas milik Transjakarta).
Untuk di Trans Jogja, saya rasa lebih enak, karena masing-masing pramugara/i akan memberitahu di setiap perhentian halte. Ditambah lagi, armada tidak terburu-buru ketika berhenti dan meninggalkan halte.
Beberapa minggu lalu, saya melihat ada kejadian yang — bagi saya — mungkin lucu juga. Kita tahu kalau di bisa transit di shelter tanpa bayar (dengan catatan keluar dan masuk di shelter untuk 1 kali perjalanan) jika menggunakan kartu Single Trip. Atau, bisa pindah di shelter manapun tanpa bayar selama durasi antara masuk shelter pertama kali dengan berikut-berikutnya tidak lebih dari satu jam (jika menggunakan kartu berlangganan).
Waktu itu, saya sedang menunggu bis di shelter Malioboro 3 (depan benteng Vredeburg). Pas mau naik ada sedikit percakapan antara petugas shelter dan penumpang. Intinya, penumpang merasa marah-marah karena dia tadi sudah bayar, dan dia hanya transit saja. Kebetulan saya kenal dengan petugas shelter/gate access-nya yang ramah dan selama ini memang melayani dengan baik.
Usut punya usut, ternyata disini penumpang yang “nakal”. Kenapa? Begini ceritanya:
* Penumpang tersebut memang turun di shelter tersebut.
* Penumpang tersebut naik bis lagi (di shelter yang sama)
* TAPI, durasi antara dia turun dan naik lagi lebih dari satu jam.
Waduh! Argumen ini diperkuat dengan beberapa tukang becak yang ada di sekitar shelter. Mereka juga melihat kalau penumpang tersebut turun waktu masih agak sore, dan jalan ke arah alun-alun utara. Saat itu memang sedang ada Perayaan Pasar Malem. Waktu diminta untuk membayar lagi sebelum naik bis, penumpang itu marah-marah. Tentu saja ini menyita perhatian penumpang lain, termasuk saya.
Hal seperti ini bisa saja terjadi, dan lebih mungkin terjadi di halte yang lumayan ramai penumpangnya. Karena pengawasan terhadap mekanisme naik turun penumpang harus lebih ekstra. Sempat ngobrol dengan petugas shelternya, dan dia sempat bilang, “Kalau penumpang yang itu sudah hafal aku…” 🙂
nah,,Sebagai pengguna jasa layanan Trans Jogja, manakah yang menjadi prioritas ketika menggunakan Trans Jogja sebagai pilihan angkutan?
* Biaya — sedikit lebih lama, agak jauh rutenya tapi cuma bayar satu kali, atau
* Waktu — pilih mencari rute paling cepat, tapi dengan biaya lebih mahal karena harus berganti jalur dengan berpindah halte.
Kalau bagi pengguna kartu berlangganan, tentu saja hal ini menjadi pilihan yang fleksibel. Pertanyaan tersebut mungkin lebih tepat diajukan bagi penumpang yang menggunakan tiket sekali perjalanan (single trip). Petugas halte dan juga pramugara/i menjadi salah satu garda depan bagi penyampaian informasi bagi para penumpang. Saya sendiri juga tidak tahu standar operasional mereka dalam memberikan informasi. Karena, kadang jawabannya juga berbeda-beda untuk pertanyaan/kasus yang sama.
Sebagai pengguna transportasi umum saya berharap Trans Jogja ini benar-benar bisa sukses beroperasi. Permasalahan bis kota di Jogja yang tidak nyaman, banyak copet, dan hanya beroperasi sampai jam 17.00 – 18.00, semoga bisa diperbaiki dengan adanya Trans Jogja.
🙂

sumber: transjogja.net

Tanda-tanda Orang Bunuh Diri???

Filed under: Uncategorized — biepink @ 7:49 am

Masih dalam rangkaian pembahasan Hukum Keenam, “JANGAN MEMBUNUH”, kini kita akan membahas sekadarnya masalah “bunuh diri”. Tentu saja! Sebab kalau masalah “euthanasia” saja yang notabene tak pernah secara eksplisit muncul dalam alkitab kita bicarakan, betapa lagi soal “bunuh diri”.
Ditambah lagi akhir-akhir ini, ketika jumlah peristiwa bunuh diri meningkat keras dan kian sering terjadi. Dari yang dilakukan karena orang karena tak tahan terus-menerus diimpit kemelaratan, sampai pada yang dilakukan oleh orang yang na´uzibillah kaya-rayanya. Ingat konglomerat yang terjun bebas dari tingkat 56 sebuah hotel?
Dari yang pelakunya orang dewasa, sampai yang pelakunya, astagafirulah, masih sangat belia. Ingat anak 12 tahun yang gantung diri, lantaran keluarganya tidak mampu menyediakan uang 2,500 rupiah? Dan . jangan lupa Anda sebutkan, semakin populernya metode terorisme dengan “bom bunuh diri”!
Sebenarnnya kita atau siapa pun tak perlu mengatakan bahwa “bunuh diri itu salah”. Sebab, kalau cuma itu, siapa yang belum tahu? Semua sudah mengetahuinya. Lagi pula tak seorang pun yang menginginkannya.
Mungkin yang belum banyak orang tahu adalah, bahwa kitalah yang tidak normal, apabila dalam situasi yang tidak normal, kita mau memaksakan ukuran-ukuran yang normal.
Yang paling penting dalam permasalahan kita, sebenarnya bukan soal benar-tidaknya atau boleh-tidaknya bunuh diri. Sekali lagi, ini telah jelas bagi semua.
Maraknya kasus bunuh diri di sekitar kita membuat kita harus semakin waspada. Dengan mengenal tanda-tanda itu, Anda bisa melakukan upaya pertolongan sedini mungkin pada yang bersangkutan.
Mau tahu tanda-tandanya? Simak yang berikut ini:
* Sering membicarakan bunuh diri.
* Selalu memikirkan dan membicarakan kematian.
* Bercerita tentang perasaannya yang sepi, tidak bisa menolong diri sendiri, ataupun merasa tidak berharga.
* Selalu membicarakan sesuatu seperti,”Semuanya akan menjadi lebih baik tanpa kehadiran saya” atau ”Saya ingin pergi.”
* Mengalami depresi (kesedihan mendalam, hilangnya keinginan melakukan sesuatu, gangguan tidur dan makan) yang semakin buruk.
* Ada perubahan yang tiba-tiba, tidak terduga, dari perasaan sangat sedih menjadi tenang atau tiba-tiba sangat gembira.
* Mempunyai kemauan untuk meninggal, atau tergoda keinginan yang bisa membawa pada kematian.
* Kehilangan hasrat dengan hal-hal yang biasa dilakukannya.
* Mengunjungi atau menghubungi orang lain untuk mengucapkan selamat tinggal.
* Mencari informasi tentang bagaimana cara-cara meninggal dengan bunuh diri, misalnya melalui internet atau bertanya dengan orang-orang sekitarnya.
kalau di sangkut pautkan dengan sosiologi bunuh diri merupakan teorinya Emile Durkheim. emile membedakan macam-macam bunuh diri yaiut :
1. egoistik : karena kepentingan dirinya sendiri dan tidak ada pengaruh dari orang lain.
2. altruistik : karena adanya pengaruh orang lain.
3. anomi : karena tidak mempunyai tujuan hidup dan cita2 tidak tercapai.
4. fatalistik.
bunuh diri memanG menjadi trend di tahun 2009,,moga-moga aja di tahun 2010 nggak ada lagi trend BUNUH DIRI..
😉

SUMBER : http://www.glorianet.org/ekadarmaputera/ekadmeny.html
liputankita.com
kompas.com
liputan6.com
🙂

Mmm,,Wulan Guritno Ikut Juga Terjun ke Dunia Politik…

Filed under: Uncategorized — biepink @ 7:31 am

Tauu gak seeeh? Berapa banyak artis yang sudah terjun ke dunia politik? Contohnya gubernur Jawa Barat sekarang, ada Dede Yusuf.. Terus juga calon bupati Subang, ada Primus Yusti–apalah.. Terus ada juga Rieke Dyah Pitaloka, dkk.

Ada hal menarik dalam masalah ini. Sebuah koran harian ibu kota menggambarkan fenomena ini sangat LUAR BIASA. Di mana sudah banyak parpol-parpol yang menarik artis-artis yang biasanya “sudah kurang tenar” alias cari sensasi lagi biar “lagi-lagi tenar”..
nah,, yang gak kalah serunya lagi Selain bergerak di dunia entertainment dan bisnis, kini ada satu dunia lagi yang digeluti artis Wulan Guritno. Ia mulai terjun ke dunia politik dan menjadi calon legislatif.
Wulan menolak keterlibatannya di dunia politik ini karena mengikuti tren yang tengah marak saat ini. Beberapa waktu terakhir, artis yang terjun di dunia politik memang mulai menjamur. Sebagian dari mereka bahkan menjabat posisi penting dalam pemerintahan.
Tunangan aktor Adilla Dimitri itu mengaku, politik memang merupakan dunia yang ingin ia geluti sejak dulu.
“Dunia entertainment dan politik sudah jadi passion saya sejak dulu. Saya mencoba untuk memberi warna baru dalam dunia itu,” demikian ujar Wulan saat ditemui di kediaman aktor Pepeng, Cinere, Rabu (30/7/2008).
Namun ibu satu anak itu juga menolak bahwa keikutsertaannya dalam politik hanya dengan bekal nama besarnya sebagai artis. Ia justru berharap masyarakat dapat memberi kepercayaan bagi para artis yang terjun ke politik.
Lalu mengapa Wulan memilih menjadi PAN sebagai partainya? “Saya nyaman di PAN. Di PAN nggak dikotak-kotakin. Yang muda diberi kesempatan untuk memberikan suara,” ujar Wulan lagi.
Sebuah fenomena yg cukup mencengangkan bagi kita 😯 , dimana para artis di Indonesia berbondong-bondong alih profesi menjadi politikus maupun caleg di negeri ini. Patut di pertanyakan alasan mereka (red. Artis) mengambil keputusan tersebut, apakah mereka sudah merasa tergusur oleh para pendatang baru utk tampil di layar kaca??? ato mereka memanfaatkan aji mumpung ketenarannya..??? ato mereka memang layak dan pantas secara kualitas utk memimpin negeri ini..??? ato bahkan mereka sendiri yg di manfaatkan oleh suatu partai politik utk meraih suara terbanyak krn memandang figur keartisannya..??? Semua masih tanda tanya dan sangat prematur utk membuktikannya ❓ . Mudah²an bukan hanya krn mereka ada kesempatan utk ikut PILKADA atopun CALEG semerta-merta tanpa mengukur kemampuan siartis itu sendiri untuk terjun ke dunia politik yg penuh intrik ini.. 😡
Saya cukup pesimistis melihat para artis ini menjadi pemimpin yg berhasil membawa negeri ini keluar dari “keterpurukan” yg berkepanjangan, bisa di lihat dari para artis sebelumnya yg sdh dulu terjun ke dunia politik. Apakah ada kontribusi atopun kinerja mereka yg patut di ingat oleh kita..?? Apakah ada perubahan² yg sdh mereka lakukan selama ini utk seluruh rakyat Indonesia..?? Saya fikir mereka sama seperti pemimpin² yg lain dari kalangan di luar artis. Sama² diberikan akal fikiran dan sama² makan nasi, hanya bakat dan ketenarannya yg membedakan. Di khawatirkan dari para artis ini adalah bilamana bakat actingnya itu di bawa ke dunia nyata, dunia politik dan dunia penuh intrik ini. Akan seperti apa sandiwaranya di depan “sidang” tp bukan di depan camera rumah produksi film..??? 😀 😥 👿
Ironisnya lagi, kehidupan artis itu sendiri sangat gelamour dan terkesan berfoya-foya dalam kehidupannya, “mungkin” memang tidak semua artis seperti “itu” tapi dari pertimbangan² inilah di harapkan kita bisa lebih bijak memilih calon figur yg pantas untuk menjadi wakil rakyat atau menjadi pemimpin di negeri ini. Jangan hanya di lihat dari ketenarannya, wajahnya, dan krn idola semata, tp ini sudah menyangkut seluruh rakyat Indonesia yg membutuhkan bukti nyata perubahan bangsa ini menjadi negara yg benar² sesuai harapan kita ; makmur, adil dan sejahtera. :-p
Mudah²an dg adanya fenomena ini akan ada sedikit cahaya utk suatu perubahan, ada sedikit warna politik di negeri ini dan ada harapan baru yg lebih baik dari kepemimpinan artis² itu. Dalam kegelapan akan selalu ada setitik cahaya utk menerangi jalan, menuju kehidupan yg lebih baik utk seluruh rakyat Indonesia.
hayoo merdeka!!!
🙂

sumber : liputan 6.com
http://www.detikhot.com
http://www.lintasberita.com

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.